Sunday, June 18, 2006

Palestina Menanti Jawaban Muslim Dunia

Perang total, itulah yang sedang terjadi di Palestina. Tak satu haripun terlewat tanpa ada salah satu dari anak bangsanya yang menjadi sasaran kejahatan penjajah Zionis Israel. Bila tidak terbunuh, tertembak, terluka, atau ditahan dalam sebuah penangkapan massal. Militer Israel tak berhenti melakukan serangan udara, menggempur lokasi penduduk sipil, menghancurkan rumah, membunuh dan menangkap ratusan orang. Israel juga menutup semua celah komunikasi dengan pemerintahan Palestina pimpinan Hamas, dan menebar informasi agar dunia terus menerus menekan pemerintah Palestina. Kini, peperangan itu tengah berkobar-kobar dengan proyek ‘tajwii’ (pemiskinan dan pelaparan) yang dialami oleh rakyat Palestina; anak-anak, wanita, lelaki, orang tua. Semuanya.
Sementara itu, isolasi total negara-negara Barat berada dalam satu kubangan yang sama dengan Zionis Israel, untuk proyek ‘melaparkan’ Palestina. Padahal dahulu, Amerika dan Uni Eropa lah yang menekan dan mengusulkan dilakukannya pemilu Palestina secara demokratis, jujur dan terbuka. Sejumlah utusan pengawas pemilu pun dikirim oleh Badan Pengawas Internasional. Tapi ketika pemilu dimenangkan Hamas secara mutlak dengan proses yang bersih, Amerika dan Uni Eropa yang justru berang terhadap hasil pemilu itu. Mereka bahkan merasa memiliki legitimasi untuk memutus bantuan kepada Palestina dan melakukan embargo terhadap pemerintahan yang dibentuk Hamas. Belum puas dengan tindakan tersebut, AS bertandang ke berbagai negara untuk merekrut dukungan mengisolir pemerintahan Palestina.
Saat mengambil alih kekuasaan, pemerintah Hamas baru tahu bahwa mereka menerima kas kosong, bahkan hutang sebesar 1,5 milyar dolar. Israel sendiri sampai kini menolak memberikan 50 juta dolar per bulan sebagai biaya bea cukai yang seharusnya disalurkan ke pemerintah Palestina dari pungutan uang yang masuk melalui perbatasan Palestina. Amerika dan Eropa pun telah memutus saluran dana bantuannya untuk Palestina.
Blokade ekonomi yang diterapkan, benar-benar tanpa celah. Penutupan seluruh jalur perekonomian yang tidak kenal ampun. Belenggu ekonomi yang begitu kuat mengikat. Israel membatasi semua gerak individu Palestina dan peredaran komoditas ekonomi, khususnya di dua tempat; Tepi Barat dan Jalur Gaza. Kerja sama ekonomi dengan dunia luar yang melewati jalur Israel tertutup. Israel bahkan menutup akses lewatnya mobil dan kendaraan apapun yang membawa makanan maupun obat-obatan ke dua wilayah tersebut. Bisa dibayangkan, kehidupan seperti ini jelas memberi dampak negatif yang luar biasa bagi kehidupan rakyat Palestina. Perekonomian Palestina seperti berada di pinggir jurang. Kemiskinan mewabah hebat dan mencapai situasi kritisnya yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Israel sendiri telah menggelar pemisahan desa-desa Palestina semenjak lima tahun lalu. Penduduk Palestina hanya bisa bergerak di lingkup desa dan perkampungannya saja dan terlarang ke lokasi lain, bahkan untuk keperluan bekerja sekalipun. Berbagai sarana pendidikan dan kesehatan juga ditekan hingga di luar batas kemanusiaan dan bertabrakan secara diametral dengan undang-undang HAM internasional. Hal ini belum lagi ditambah dengan proyek pembangunan tembok pemisah yang kerap disebut tembok rasial. Sejumlah besar kota dan desa penduduk Palestina terkurung dan terisolir menjadi tiga wilayah besar. Tembok inipun memainkan peran penindasan yang lebih hebat lagi hingga melahirkan penderitaan ekonomi, kesehatan dan pendidikan Palestina.
Menurut Lembaga Sensus Nasional Palestina, kemiskinan mencapai lebih dari 64,9% rakyat Palestina. Jika sebelum pengepungan Israel hanya 22% saja pengangguran, kini menjadi lebih dari 60% usia produktif di Palestina tidak mempunyai pekerjaan. Strategi pemiskinan Palestina oleh Israel juga berlanjut pada derita yang dialami rakyat Palestina di lingkup kesehatan, pendidikan, kebudayaan, kejiwaan, dan sebagainya. Denyut ekonomi nyaris berhenti total. Palestina seperti kota mati yang tak memiliki dinamika hidup. Toko, pasar, dan usaha jual beli telah menjadi lumpuh.
Seperti itulah situasi perang total yang sedang terjadi di Palestina. Mereka menjadi ajang perang militer, ekonomi, dan politik. Situasi yang sudah tentu semakin menambah penderitaan Palestina yang lebih berat lagi, bukan hanya butuh kehidupan (menyambung hidup), tapi mereka juga penting untuk bisa bertahan dan berjuang untuk membebaskan Palestina dari penjajah Israel.
Apa yang terjadi saat ini, memang perang total yang ditimpakan kepada seluruh rakyat Palestina sebagai hukuman karena mereka mendukung Hamas hingga menjadikan Hamas berkuasa. Itulah hukuman massal ala Zionis dengan sokongan AS dam sekutunya. Hukuman ini bukan hukuman terhadap pemerintah. Jadi, ini memang bukan hukuman terhadap demokrasi. Bukan hukuman atas pilihan rakyat. Bukan hukuman yang diberikan kepada Hamas. Tapi, ini adalah hukuman untuk seluruh rakyat Palestina dari Negara-negara yang tak setuju dengan pembebasan Al Aqsha.
Meskipun demikian, sampai detik ini, kepala biro politik Hamas, Khaled Meshal tetap menegaskan tak terlintas sedikit pun dalam pikiran Hamas untuk mundur dari khittah perjuangan mereka untuk membebaskan tanah Palestina. Meshal tetap menyatakan penolakannya terhadap berdirinya Negara Israel di atas tanah Palestina dan berkeras untuk memperjuangkan hak kembali ke tanah air bagi pengungsi Palestina yang telah puluhan tahun terusir paksa, lalu hidup di kamp-kamp pengungsi berbagai negara tetangga. “Rakyat Palestina akan kembali ke tanah air mereka. Kami tidak akan mundur dari pilihan jihad dan perlawanan. Itulah inti kehormatan dan kemuliaan kita,” katanya yakin. Meshal juga menegaskan bahwa rakyatnya akan mampu melewati fase kritis ini.
Tapi iapun menghimbau kepada seluruh umat Islam dunia untuk memberikan bantuan moril dan materilnya kepada Palestina. “Tak ada alasan di hadapan Alloh bagi kalian, bila bangsa Palestina kelaparan sedangkan kalian masih memiliki harta yang cukup. Harta tersebut memiliki hak untuk diberikan kepada fakir miskin, anak-anak yatim, keluarga syuhada, keluarga para tahanan di Palestina,” katanya.
Menlu Palestina, Mahmud Al Zehar pun mengajak semua umat Islam untuk memberikan bantuannya kepada Muslim Palestina. Tidak muluk-muluk, melalui Organisasi Konferensi Islam ia berharap setiap individu Muslim bisa menyumbangkan satu dolar saja untuk Palestina. Sementara itu Dr. Munim Abu Fatuh, Sekjen Asosiasi Dokter Arab menegaskan pentingnya mengganti kalimat penggalangan dana sukarela menjadi penggalangan dana wajib. “Katakanlah kampanye penggalangan dana wajib untuk menyelamatkan Palestina,” ujarnya.
Hal ini sebagaimana telah disampaikan oleh Dr. Yusuf Qardhawi, bahwa umat Islam wajib menyalurkan dana bantuan untuk Palestina. “Ini adalah bantuan yang wajib dilakukan oleh umat Islam. Umat Islam tidak boleh membiarkan saudaranya mati kelaparan, sementara dirinya memiliki harta. Bukan termasuk ajaran Islam, jika kita makan kenyang dan bahkan membuang sisa makanan ke keranjang sampah, sementara ada saudara-saudara kita yang menderita kelaparan. Kondisi seperti ini sangat tidak diperbolehkan dalam logika Islam dan juga logika kemanusiaan,” terang Dr. Yusuf Qardhawi.
Saudaraku, Ameraka Serikat dan antek-anteknya memang bukan tuhan! Tapi, siapakah di antara kita yang terketuk untuk memberi bantuan kepada Palestina? Haruskan saudara-saudara Muslimin kita ‘meminta-minta’ untuk pembebasan masjid Al Aqsha, yang menjadi kiblat pertama dan tempat suci ketiga seluruh kaum Muslimin? Ya, memang tak banyak yang bisa kita lakukan. Tapi meski hanya: one man one dolar to save Palestina, semoga menjadi bukti kebenaran iman kita di hadapan Alloh, bahwa kita mencintai mereka; Muslim Palestina… {TEAM}

0 Comments:

Post a Comment

<< Home